Sensing Journey 1: Desa Boti, NTT


Sistem pangan modern telah menjadi pemicu berbagai masalah lingkungan global, mulai dari pencemaran lingkungan,hilangnya keragaman hayati, hingga peningkatan emisi gas rumah kaca. Masyarakat adat Boti di Pulau Timor, Nusa TenggaraTimur menunjukkan bisa berdaulat pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Masyarakat adat Boti secara administratif tinggal di Kecamatan Kie, sekitar 50 kilometer dari Kota Soe, Ibukota KabupatenTimor Tengah Selatan (TTS). Untuk mencapai Boti bisa ditempuh sekitar tiga jam dari Soe, melalui jalan berbukit yang sebagianbesar tak beraspal.

Warga Boti yang masih mempraktikkan kepercayaan Halaika dipimpin oleh Usif (Raja) Boti, Namah Benu. Dalam sistemkepercayaan mereka, Uis Pah (Ibu Bumi) dipercaya sebagai pengatur kehidupan alam semesta beserta isinya. Sedangkan UisNeno (Bapak Langit), sebagai penguasa alam baka setelah kematian.

Menjaga alam merupakan bagian dari nilai-nilai hidup orang Boti. Mereka percaya bahwa manusia merupakan bagian dariekosistem. Saat kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita.

Seperti daerah lain di Pulau Timor, Boti beriklim kering dengan tanah berbatu kapur. Meski demikian, masyarakat adat Botiberadaptasi terhadap keterbatasan sumber daya alam dengan menjaga lingkungan.

Orang Boti dilarang menebang pepohonan di sekitar mata air dan di hutan adat, untuk menjamin ketersediaan air sepanjangtahun. Kalupun harus menebang hutan, hal itu hanya boleh dari hutan budidaya dan itu pun harus didahului denganmenanam pohon pengganti lebih dulu.

Untuk mencukupi kebutuhan pangan, orang Boti menanam beragam jenis sumber pangan melalui sistem pertaniancampuran. Selain padi ladang, mereka juga menanam pena (jagung), pen mina (sorgum), sain (jewawut), beragam umbi-umbian, hingga sayur dan buah-buahan. Ragam tanaman pangan ini ditanam di sela-sela tanaman keras seperti kemiri, sertatanaman buah-buahan.

Dengan menanam beragam sumber pangan ini, mereka memiliki banyak cadangan pangan, sehingga tidak pernahkekurangan pangan. Mereka juga menyimpan hasil panen dan benih di dalam lumbung. Hampir semua kebutuhan panganbisa dipenuhi sendiri, termasuk rempah-rempah dan minyak goreng yang dibuat dari kelapa.

Orang Boti juga memelihara ternak dengan sistem semi diliarkan. Ayam, babi, kambing, hingga sapi bebas berkeliaran dilahan pertanian dan hutan. Selain ternak tumbuh secara organik, kotoran hewan menjadi pupuk alami tanaman.

Selama di Boti, ragam sumber pangan ini disajikan, mulai dari jagung bose, yaitu jagung yang direbus bersama kacang-kacangan, selain nasi, pisang, hingga umbi-umbian. Aneka bahan pangan ini diolah dengan rempah yang tumbuh dilingkungan mereka.

Boti juga memiliki kearifan untuk menjamin kesejahteraan anak-anak, termasuk asupan nutrisi. Mereka juga memiliki harikhusus untuk anak, dalam sistem sembilan hari mereka. Pada hari itu, merek akan merawat dan mendidik anak dengankasih. Hal ini menjadikan Boti tidak memiliki kasus gizi buruk dan stunting pada anak, padahal Kabupaten TTS memiliki angagizi buruk dan stunting sangat tinggi.

Tak hanya mandiri pangan, orang Boti juga menenun kain yang dirajut dari kapas yang ditanam di sekitar rumah mereka.Semuanya serba alami, termasuk pewarna kain dibuat dari akar, daun, dan kulit tanaman. Bahkan, menurut Molo Benu, AdikRaja Boti, orang-orang Boti juga membuat sabun dan sampo untuk mencuci rambut dengan bahan alam.

Orang Boti pantang menerima bantuan, termasuk dari pemerintah. Mereka selama ini selalu menolak bantuan raskin (berasuntuk rakyat miskin) atau yang sekarang menjadi rastra (beras sejahtera).

”Sejak turun-temurun kami diajari bekerja keras sehingga tidak tergantung orang luar. Bantuan hanya membuat orang malas.Kami tidak akan pernah kekurangan selama bekerja keras,” kata Raja Boti Namah Benu. "Meuk tamep, tahap leko, paket leko(artinya dengan bekerja keras, kita bisa makan baik, tidur nyenyak dan berpaiakan baik."

Namah Benu memberikan tauladan atas kerja keras itu. Sekalipun dia

seorang Raja, namun dia juga petani, bahkan sepertidilakukannya siang itu, dia turut menggali ubi hutan bersama warganya.

“Kami makan apa yang kami tanam dan menanam apa yang kami makan," kalimat ini berulangkali kami dengar. Tidaksekadar ucapan, orang-orang Boti telah bagaimana mereka bisa mandiri pangan dengan bekerja keras.

Maka, mencuri merupakan tabu terbesar di Boti, tetapi hukumannya tergolong unik. Sebagai contoh, jika ada yang mencuriayam, warga agar ramai-ramai memberikan ayam. Jika ada yang mencuri kambing, maka akan diberikan kambing, danseterusnya, sampai mereka berhenti mencuri karena malu. Bagi mereka, orang mencuri karena kekurangan sehingga harusdibantu.

Masyarakat Boti telah menunjukkan pola hidup masyarakat tradisional kita yang terbukti berdaulat pangan hingga saat ini.Dari Boti, kami belajar tentang bagaimana cara hidup bersanding alam. Dengan menjadi bagian dari ekosistem, orang Botibisa berkecupan pangan, sekaligus menjamin kelestarian alam.

Ditulis oleh: Finbargo


Komentar